Preloader image

Dampak Blok Mahakam Tak Signifikan

PROKAL.CO, SAMARINDA  -  Kendurnya kinerja sektor pertambangan dan penggalian diperkirakan menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi Kaltim tahun ini. Bank Indonesia pun memproyeksikan, laju kenaikan produk domestik regional bruto (PDRB) di Benua Etam sepanjang 2018 ini di level 2,4-2,9 persen.

Laju tersebut lebih lambat dibanding pertumbuhan ekonomi tahun lalu, yang diproyeksikan di posisi 3,4 persen. Alasan perlambatan, tak lain karena struktur ekonomi daerah ini masih didominasi sektor pertambangan dan penggalian yang berkontribusi hingga 46 persen. Harga dua komoditas utama dari sektor tersebut, yakni batu bara dan migas, diperkirakan sedikit terkontraksi di pasar global tahun ini, lantaran kebijakan pembatasan konsumsi dari negara tujuan ekspor utama, seperti Tiongkok.

Kepala Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan BI Kaltim, Harry Aginta mengatakan, melepas ketergantungan terhadap sektor batu bara kemungkinan masih sebatas cita-cita, yang sulit terwujud dalam waktu dekat. Meski begitu, dia optimistis, sektor lain bisa berkontribusi lebih besar dari tahun ke tahun. Sebut saja sektor industri pengolahan kelapa sawit, yang mulai dipilih sebagai sasaran investasi sejumlah investor baru.

“Tahun ini, diketahui ada penambahan sejumlah pabrik baru. Apalagi bahan baku juga semakin melimpah. Ini bisa menjadi tren yang membantu mengeluarkan Kaltim dari ketergantungan atas sektor usaha atau komoditas tertentu,” terangnya saat diwawancarai Kaltim Post, Jumat (5/1).

Harry menjelaskan, pembangunan beberapa pabrik tersebut dapat membuat industri pengolahan mendominasi struktur ekonomi. Bahkan bisa selaras dengan target Pemprov Kaltim, yang menargetkan sektor ini menyumbang 42 persen terhadap nilai PDRB.

Selain hasil perkebunan, dia menyebut, industri pengolahan juga bisa ditopang dari komoditas energi seperti minyak dan gas bumi (migas). Tren ini, disebutnya sudah berjalan bertahun-tahun di Kaltim, meski memang dampak  turunannya belum signifikan.

“Migas masih bisa memberi peluang untuk sektor pengolahan. Kaltim sudah menjalankannya, dan itu bisa jadi penopang pertumbuhan ekonomi, agar tak bergantung dengan komoditas mentah, seperti batu bara. Batu bara itu cuma diambil, angkut, jual. Tidak ada pengolahannya,” tutur dia.

Masih soal migas, Harry juga menyinggung peluang dampak ekonomi makro dari peralihan pengelola Blok Mahakam, yang kini ditangani Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Dalam waktu dekat, dia memperkirakan, sumber energi ini tak banyak memberi perubahan, karena produksi yang cenderung stagnan, bahkan disebut banyak pihak berpotensi turun dari sebelumnya.

“Kemungkinan tidak berdampak banyak kepada pertumbuhan sektor pertambangan migas. Produksinya relatif sama. Tapi kita harap, jangan ada penurunan,” imbuhya.

Kendati begitu, dia yakin, rencana pengeboran sumur baru akan memberi dampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Meski memang sulit signifikan, lantaran tingkat produksi di sejumlah sumur lama menurun.

“Secara umum produksi biasa saja. Makanya secara makro tidak ada pengaruh signifikan. Yang paling akan berpengaruh terhadap ekonomi Kaltim itu nanti perkembangan dari sektor pengolahan kelapa sawit. Apalagi dengan target operasional 90 pabrik pengolahan CPO tahun ini,” tutupnya.

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia Bambang Manumayoso sebelumnya mengakui kendala produksi itu. Belum lagi, harga minyak posisinya masih rendah, enggan beranjak dari kisaran USD 60 per barel.

Tahun ini, PHM akan mengejar pengeboran 55 sumur baru, dan 14 sumur tambahan, dengan nilai investasi USD 1,7 miliar. Sebelumnya, sejak Juli lalu, PHM telah melakukan pengeboran 15 sumur, dan ditarget berproduksi bulan ini. “Kami yakin bisa menjaga produksi yang ada,” serunya. (*/ctr/man/k15)

Sumber : Kaltim Post (Sabtu, 6 Januari 2018)

Dibuat Oleh : Admin

15 Maret 2018